Sabtu, 04 Juni 2016

Analisis Jurnal ITSM

Jurnal-I

Analisa Jurnal  : Perancangan Confoguration Management Database Perusahaan Untuk     Meningkatkan Kinerja Layanan Teknologi Informasi PT. Northstar Pasific Capital

Pendahuluan
            Penelitian mengenai CMDB telah dilakukan di berbagai negara-negara termasuk Indonesia diantaranya :
  1. Sharifi yang membahas implentasi CMDB berbasis ITIL di suatu organisasi untuk meminimalkan jurang-jurang kualitas. Dengan menggunakan metode IT Service Management dengan model uji/hitung/ukur yang meliputi S.Q.G dan CMDB.
  2. Gupta membahas tentang otomatisasi ITSM incident management process.  Dengan menggunakan metode configuration Management Database dengan uji/hitug/ukur meliputi efisiensi hubungan antara configuration items.
  3. Hochstein yang membahas tentang ITIL sebagai “Common Practice Reference Model” untuk IT service Management yang meliputi “formal Assaessment” dan implikasinya dalam cara praktis. Dengan menggunakan metode Information Technology Infrastructure Libary.
  4. Nabiollahi yang membahas tentang strategi layanan di dalam ITIL V3 sebagai framework untuk framework untuk IT Governance. Dengan menggunakan metode ITIL Servic Strategy, dan lain-lain.

         Dapat di simpulkan bahwa setiap penelitian dari peneliti-peneliti diatas membahas tentang perkembangan teknologi terhadap penerapan CMDB (Configuration Management Database) yang berbasis ITIL. Yang dilakukan peneliti diatas dengan metode yang berbeda-beda untung mencapai tujuan tertentu yang dapat memajukan atau mengembangkat IT.
        Pada jurnal yang saya analisis ini, penelitiannya melakukan perancangan configuration management database pada PT. Northstar PASIFIC Capital dimana tujuannya adalah agar tercipta tata kelola layanan teknologi informasi yang baik khususnya pada Configuration Management database sebagai reseptory yang mencatat segala hal dari organisasi yang berhubungan dengan TI agar dapat memberikan layanan optimal bagi para pengguna.


Landasan Teori

Framework

Framework untuk tata kelola teknologi informasi yang terbanyak digunaakan saat ini adalah ISO 2700, ITIL dan COBIT. Kriteria framework yang tepat untuk PT. Northstar Pasific Capital adalah :
a.       Framework harus merupakan best practice yang telah diakui secara luas.
b.       Framework tersebut harus dapat memetakan manajemen layanan
c.        Harus mengatur Konsep dan proses
d.       Berorientasi pada aktifitas
e.        Memiliki proses dokumentasi konfigurasi mulai dari baseline hingga pengkiniannya.
f.        Memiliki proses menghubungkan entitas satu dengan yang lainnya.

Configuration Management Database (CMDB)

Merupakan Suatu penerapan database yang berisi data-data relevan dan detail-detail dari element-element dari suatu perusahaan yang digunakan dalam mengatur IT Service. Menurut OGC, definisi CMDB adalah sebuah basis data yang digunakan untuk merekam seluruh siklus. Configuration Management System
mengelola satu atau lebih CMDB dan masing masing CMDB menyimpan atribut-atribut configuration items serta hubungannya dengan CI lainnya.

Configuration Items (CI)

CI adalah representasi dari entitas yang ada didalam CMDB. Menurut O’Donnel, CI adalah sebuah software model berisi atribut-atribut dari entitas-entitas yang diwakilinya.

Identifikasi Konfigurasi

Berdasarkan OGC, beberapa hal yang penting ketika merencanakan identifikasi dari konfigurasi adalah :
a.       Mendefinisikan bagaimana class dan tipe asset (informasi-informasi, seperti layanan TI, hardware, software, gedung, orang, dokumen), configuration item/CI yang perlu dipilih dan diklasifikasikan.
b.       Mendefinisikan pendekatan untuk mengidentifikasi. Penamaan dan pelabelan yang unik dari setiap aset atau komponen layanan.
c.        Mendefinisikan tugas dan tanggung jawab dari pihak yang mengelola konfigurasi.

Dengan melakukan identifikasi dari konfigurasi maka diharapkan dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi dari pengelolaan CMDB.

Rancangan Penelitian

Best practice dapat di jadikan titik acuan pada perkembang TI. Yang paling efektif best practice harus diterapkan dalam konteks bisnis, dengan framework yang dapat digunakan untuk memberikan keuntungan pda organisasi. Manfaat best praactice :
  • Meningkatkan respon, kualitas dan keandalan solusi dan layanan TI.
  • Meningkatkan keterjangkauan, prediktabilitas dan pengulangan hasil bisnis yang sukses.
  •  Memperoleh kepercayaan dan meningkatkan keterlibatan pemilik proses bisnis dan pengguna.
  • Mengurangi resiko, insiden dan kegagalan.
  • Meningkatkan kemampuan bisnis untuk memantau realisasi manfaat TI

Pada tahap discovery dilakukan pengumpulan atribut-atribut dari CI. Discovery memiliki metode yaitu network scan dan windows domain scan. Untuk memilih piranti discovery adalah dengan melakukan query terhadap atribut-atribut CI. Piranti terintigrasi memiliki hubungan yang terkait dengan aplikasi-aplikasi yang terikat dengan CMDB seperti incident management dan change management.
Tahap selanjutnya yaitu pemetaan keterhubungan, digunakan untuk dapat mengetahui pengaruh dari setiap konfigurasi ke konfigurasi lain maupun ke layanan. Tahap yang selanjutnya, meninjau antara layanan dan CI yang telah dilakukan pada tahap awal yang menjelaskan tentang pemetaan dari bisnis proses yang dimiliki oleh PT. Northstar Pasific Capital.


Hasil Penelitian
Hasil penelitian untuk perancangan menggunakan metode survei dengan cara menyebarkan kuesioner. Variabel yang diukur dalam kuesioner ini adalah :
1.       Persepsi terhadap prosedur-prosedur pada tahapan perancangan CMDB (X)
2.       Persepsi terhadap peningkatan kinerja layanan TI di PT.Nourtstar Pasific Capital (Y).
Dalam penelian kuesioner yang kedua digunakan metode chi-square dengan melakukan uji hipotesis. Hipotesisnya yaitu “ada hubungan positif dan signifikan antara CMDB desain prosedure dengan kinerja TI peningkatan pelayanan di PT. Northstar Pasific Capital” yang dilakukan dengan metode Product Moment Pearson. Hasil yang diperoleh dengan menggunakan rumus korelasi adalah 00,37. Hal ini ada hubungan positif antara prosedur desain CMDB dengan peningkatan kinerja dalam teknologi informasi layanan PT. Northstar Pasific Capital. Dalam korelasi signifikan dihasikan t sebesar 2,24, Dengan nilai t tabel pada 2,04. Maka dapat dinyatakan bahwa korelasi antara prosedur desain CMDB dan peningkatan kinerja di bidang teknologi informasi layanan di PT. Northstar Pasific Capital adalah signifikan.

Kesimpulan

Kesimpulan yang di dapatkan pada penelitian ini terdapat persepsi mengenai hubungan yang positif dan signifikan antara prosedur perancangan CMDB dengan peningkatan kinerja layanan TI, sehingga dapat menjadi langkah awal menuju implementasi CMDB di PT. Northstar Pasific Capital.


Nama          : Eva Dwi Permatasari
Kelas           : 2KA12
NPM           : 13114677
Sumber        : http://download.portalgaruda.org/article.php?article=139354&val=5701


Jurnal-II

 Judul : Audit Pengelolaan Layanan Tek. Inf. berdasarkan ITIL pada IT Marketing dan Trading PT. Pertamina
   
   Pada jaman sekarang ini Teknologi Informasi (IT) sangat dibutuhkan pada sebagian besar organisasi ataupun perusahaan. Maka, layanan TI ini menjadi faktor penting untuk penggunanya khususnya harapan dan kepuasan pengguna layanan ini. Oleh karena ini diperlkan pengelolaan layanan TI yang baik yang disebut Information Technology Service Management (ITSM).

    Salah satu BUMN yang menggunakan layanan ini adalah PT. Pertamina, yang bergerak dalam bidang penambangan minyak dan gas bumi di Indonesia dan manca negara. Dalam upaya membangun pengelolaan IT yang berorientasi pada layanan dan terintegrasi, maka PT. Pertamina melakukan perubahan dalam pengelolaan ICT (Information and Communication Technology) menjadi sebuah konsep CSS (Corporate Shared Service). Dengan dibentuknya CSS, diharapkan dapat memberikan layanan terbaik bagi pelanggan PT. Pertamina.

    Hasil survey tersebut menunjukkan bahwa kualitas pengelolaan layanan TI yang dilakukan sudah cukup memadai, namun diperlukan upaya antisipasi untuk mencegah terjadinya kondisi yang lebih buruk melalui tindakan perbaikan agar kesenjangan layanan yang terjadi lebih rendah. Untuk mengidentifikasi faktor penyebab terjadinya kesenjangan layanan antara kenyataan dengan harapay pengguna layanan IT di PT. Pertamina, maka dibutuhkan audit pengelolaan layanan IT berdasarkan salah satu Best Practice ITSM, yaitu Information Technology Infrastructure Library (ITIL).

Audit adalah pemeriksaan sistematis terhadap catatan-catatan dengan melibatkan analisa, pengujian bukti, dan konfirmasi.

METODE PENELITIAN
----------------------------------
# Tahap Perencanaan Audit
   1. Penilaian Resiko Audit
        Pada proses ini dilakukan dengan menentukan kategori tingkat kesenjangan dari 20 layanan CSS yang terdapat di dalam laporan hasil survey. Semakin tinggi nilai kesenjangan layanan, maka semakin besar tingkat resiko dan intensitas pemeriksaan yang harus dilakukan oleh auditor.
   2. Penentuan Ruang Lingkup Audit
     Dengan cara memilih layanan yang hanya terdapat di area kerja IT PT.Pertamina. Layanan-layanan tersebut dibagi menjadi beberapa layanan, yaitu layanan berbasis ERP / Non ERP dan layanan teknologi informasi.
   3. Penyusunan Rencana Kerja Audit
     Rencana kerja ini berupa jadwal kerja yang berisi uraian kegiatan serta estimasi waktu yang diperlukan selama pelaksanaan audit. Mulai dari tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, hingga tahap pelaporan.
   4. Perancangan Program Audit
     Program ini dirancang dan dikembangkan secara fleksibel berdasarkan pemetaan layanan - layanan TI PT.Pertamina terhadap ruang lingkup ITIL Service Operation.

# Tahap Pelaksanaan Audit
   1. Pemeriksaan Data / Bukti Pendukung Audit
         Dilakukan dengan cara mengkaji ulang prosedur yang terkait dengan pengelolaan layanan serta melakukan interview, observasi, dan wawancara kepada pihak yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan aktivitas.
   2. Pengawasan Data / Bukti Pendukung Audit
    Melaporkan hasil pemeriksaan kepada auditor senior. Hal ini bertujuan agar dilakukan pemeriksaan ulang terkait kelengkapan, obyektivotas, dan waktu dari data/bukti pendukung audit.

# Tahap Pelaporan Audit
Selanjutnya menyusun laporan audit pengelolaan layanan TI sebagai bentuk pertanggungjawaban atas penugasan audit yang telah dilaksanakan. Ini bertujuan untuk menghilangkan ketidaktepatan pengungkapan temuan selama proses pemeriksaan dan membentuk kesepahaman opine antara auditor dengan auditee.

HASIL DAN PEMBAHASAN
-----------------------------------------
# Tahap Perencanaan Audit
   1. Penilaian Resiko Audit
         Dilakukan dengan melakukan survey kepada pihak IT PT. Pertamina Marketing Operation. Dari hasil survei yang telah dilakukan, diperoleh laporab akhir hasil survey layanan CSS mengenai kualitas layanan diberbagai unit kerja dan anak perusahaan PT. Pertamina.
   2. Penentuan Ruang Lingkup Audit
        Hasil dari proses penentuan ruang lingkup audit berupa 9 layanan yang terdapat di area kerja PT. Pertamina.
   3. Penyusunan Rencana Kerja Audit
         Hasil dari proses ini adalah tabel rencana kerja audit yang berisi informasi kegiatan audit dan estimasi waktu yang diperlukan selama kegiatan audit berlangsung.
   4. Perancangan Program Audit
         Berdasarkan hasil pada tahap penentuan ruang lingkup audit yaitu 9 layanan yang menjadi obyek audit pada sebelumnya, dipetakan berdasarkan ruang lingkup ITIL Service Operation yang relevan untuk menghasilkan rancangan program audit pengelolaan layanan teknologi informasi.

# Tahap Pelaksanaan Audit
   1. Pemeriksaan Data / Bukti Pendukung Audit
     Hasil dari proses pemeriksaan dara pendukung audit adalah bukti-bukti audit yang telah didapatkan dari pihak auditee berupa dokumen kebijakan/prosedur, catatan review/laporan analisa baik dalam bentuk file/softcopy.
   2. Pengawasan Data / Bukti Pendukung Audit
         Pengawasan dilakukan oleh auditor senior dengan melakukan pemeriksaan ulang terhadap hasil pemeriksaan data.bukti pendukung audit yang telah dilakukan oleh auditor. Pemeriksaan ulang bertujuan untuk mengidentifikasi dan memastikan kelengkapan bukti sebelum dilakukan penyusunan temuan.


# Tahap Pelaporan Audit
Laporan audit berisi temuan dan rekomendasi perbaikan terkait pengelolaan layanan TI berdasarkan ruang lingkup ITIL Service Operation.

Jadi kesimpulannya, dari hasil audit pengelolaan layanan teknolohi informasi yang telah dilakukan, kebijakan atau prosedur terkait proses pengelolaan layanan TI PT. Pertamina telah tersedia, terdokumentasi dan terkelola dengan baik. Dan pelaksanaan audit belum dapat mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya kesenjangan layanan. Diharapkan untuk pengembangan selanjutkan dapat dilakukan pengkajian ulang terhadap kinerja pengelolaan layanan TI.





    Oleh : Alfiyani Nikmaturrofiqoh

Jurnal III


Analisa Jurnal           : Peranan Sistem Informasi Akuntansi Terhadap Pengendalian Intern Aktivitas Pembelian Bahan Baku Guna Mencapai Penyerahan Bahan Baku yang Tepat Waktu

Pendahuluan

Menurut Hansen dan Mowen (2005:477), “Manufaktur JIT (just in time) adalah suatu sistem berdasarkan tarikan permintaan yang membutuhkan barang untuk ditarik melalui sistem oleh permintaan yang ada, bukan didorong ke dalam sistem pada waktu tertentu berdasarkan permintaan ssyang diantisipasi.”
Dengan sistem JIT, bahan baku dapat tiba tepat waktu ketika dibutuhkan sehingga produksi dapat berjalan lancar, dan permintaan pembelian dapat dipenuhi. Pembelian JIT (JIT purchasing) memberikan syarat  para pemasok untuk mengirimkan bahan baku tepat pada waktunya untuk kelancaran proses produksi. Sistem JIT antar departemen di dalam perusahaan dapat tercapai dengan baik apabila terdapat suatu sistem pengendalian yang efektif. Sistem adalah unsur yang saling terkait dalam suatu antar relasi diantara unsur-unsur tersebut dengan lingkungan. Pengendalian terencana dari suatu aktivitas adalah  suatu karakteristik dasar dari industri yang sudah modern, sebab pada dasarnya pengendalian yang efektif atas manusia, bahan, mesin dan uang merupakan aspek yang sangat penting demi kelangsungan hidup perusahaan. Sejalan dengan perkembangan suatu perusahaan maka untuk menghadapi faktor-faktor tersebut haruslah dipertimbangkan suatu sistem pengendalian yang dapat menunjang seluruh aktivitas produksi sehingga dapat mencapai semua tujuan perusahaan

METODE PENELITIAN
Objek Penelitian PT. X dirintis sejak tahun 1974 dalam bentuk home industry. Atas kegigihan pemilik, yaitu Bapak T. Tjahyadi, dalm waktu kurang lebih 20 tahun, perusahaan berkembang menjadi sebuah perusahaan industri manufaktur dan pemasaran garmen terkemuka di Indonesia. Ada beberapa unit produksi yang tersebar di beberapa tempat, namun lokasi utamanya berada di Jalan Krawang, Bandung. Perusahaan ini sudah memulai usahanya dengan melakukan ekspor pada tahun 1980, yaitu Amerika Serikat dan Jepang. Sejak tahun 1988, karena permintaan bertambah, maka perusahaan mengekspor sebagian besar produksinya ke Timur Tengah dan Rusia. Kegiatan ekspor ini berjalan lancar sehingga PT. X menjadi eksportir garmen terkemuka di Indonesia. Pada tahun 1998, prerusahaan merintis kerjasama dengan mengambil lisensi dari salah satu perusahaan garmen terkemuka di Italia. Dan direncanakan produk dengan merk yang cukup terkenal ini akan dibuat dan dipasarkan di Indonesia tahun 1999.

HASIL DAN PEMBAHASAN
·         PT. X mencakup pembahasan yang berhubungan dengan siklus pembelian, yaitu prosedur permintaan atas pembelian bahan baku, prosedur pembelian bahan baku,
PT. X. Pembahasan ini meliputi prosedur pengendalian yang mencakup beberapa hal berikut ini:
1. Otorisasi yang memadai atas transaksi dan aktivitas
2. Pemisahan fungsi yang memadai
 3. Rancangan dan penggunaan dokumen dan catatan yang memadai
4. Pengendalian atas akses serta penggunaan aktiva dan catatan
 5. Pemeriksaan independent atas kinerja Pembahasan ini bertujuan untuk menilai apakah aktivitas pengendalian yang diterapkan dalam siklus pembelian pada PT. X saat ini telah memadai, sehingga dapat menunjang tercapainya kegiatan pembelian secara efektif  untuk mencapai penyerahan yang tepat waktu.

·         Pembahasan Atas Prosedur Permintaan Pembelian Bahan Baku Pada PT. X kegiatan permintaan pembelian bahan baku berawal dari bagian PPIC. Pengendalian dalam prosedur permintaan bahan baku ini bertujuan untuk memastikan bahwa bahan baku yang diminta adalah bahan baku yang benar-benar dibutuhkan untuk proses produksi dan tepat dalam jumlah yang sesuai dengan yang dibutuhkan. Keputusan utama yang harus diambil oleh bagian PPIC adalah untuk mengidentifikasi apa, kapan, dan berapa banyak bahan baku yang harus dibeli.
·         Pembahasan Atas Prosedur Penerimaan dan Retur Bahan Baku Pengendalian dalam prosedur penerimaan bahan baku bertujuan untuk menjamin bahan baku yang diterima merupakan bahan baku yang dipesan oleh perusahaan. Bahan baku tersebut dikirim oleh pemasok dengan tepat jenis, jumlah, kualitas, dan waktu pengirimannya

NAMA : AIDA FITTRIA
KELAS : 2KA12
NPM : 10114630
LINK JURNAL                        :








Sabtu, 12 Maret 2016

ITIL DAN COBIT

Minggu 2
ITIL DAN COBIT

ITIL atau Information Technology Infrastructure Library adalah suatu rangkaian dengan konsep dan teknik pengelolaan infrastruktur, pengembangan, serta operasi teknologi informasi (TI). ITIL diterbitkan dalam suatu rangkaian buku yang masing-masing membahas suatu topik pengelolaan (TI). Nama ITIL dan IT Infrastructure Library merupakan merek dagang Office of Government Commerce(OGC)Britania Raya. ITIL memberikan deskripsi detil tentang beberapa praktik (TI) penting dengan daftar cek, tugas, serta prosedur yang menyeluruh yang dapat disesuaikan dengan segala jenis organisasi (TI).


ITIL merupakan sebuah kerangka pengelolaan layanan IT yang terbagi kedalam proses dan fungsi (lihat penjelasan tentang apa itu ITIL dalam artikel terpisah). Dua area/modul dalam ITIL, yaitu Service Support dan Deliverykemudian menjadi CORE dalam ITIL versi 2, yang kemudian kita kenal dengan IT Service Management.
COBIT atau Control OBjective of Information and related Technology merupakan sebuah pedoman bagi pengelolaan IT termasuk input, proses, output, serta process control yang terbagi kedalam 4 obyektif dan 34 area kunci. Masing-masing obyektif tersebut adalah: Planing & Organization (PO), Acquisition & Implementation (AI), Delivery & Support (DS) dan Monitoring.
Control Objective for Information & Related Technology (COBIT) adalah sekumpulan dokumentasi best practice untuk IT Governance yang dapat membantu auditor, pengguna (user), dan manajemen, untuk menjembatani gap antara resiko bisnis, kebutuhan kontrol dan masalah-masalah teknis IT (Sasongko, 2009).
COBIT mendukung tata kelola TI dengan menyediakan kerangka kerja untuk mengatur keselarasan TI dengan bisnis. Selain itu, kerangka kerja juga memastikan bahwa TI memungkinkan bisnis, memaksimalkan keuntungan, resiko TI dikelola secara tepat, dan sumber daya TI digunakan secara bertanggung jawab (Tanuwijaya dan Sarno, 2010).

Apabila dilihat dari posisi kedua pendekatan tersebut, maka dapat kita lihat hubungan secara langsung diantara Delivery & Support (COBIT) dan ITSM. Dimana COBIT mengatur masalah obyektif yang harus dicapai oleh sebuah organisasi dalam memberikan layanan IT, sedangkan ITIL merupakan best practice cara-cara pengelolaan IT untuk mencapai obyektif organisasi. Sehingga dapat dikatakan bahwa COBIT dan ITIL merupakan dua pendekatan dalam IT Governance dan tata kelola layanan teknologi informasi yang saling melengkapi. Apabila dibedah lebih jauh, relavansi ITIL tidak hanya berhenti di area Deliveri & Support, tetapi bisa kita petakan ke area COBIT lainnya.
Bagi anda yang sudah menggunakan COBIT sebagai standar kontrol terhadap pengelolaan IT, anda dapat juga mengimplementasikan ITIL dalam upaya meningkatkan tingkat kematangan IT perusahaan anda (Maturity Level). Bagi yang belum mengimplementasikannya dapat mengkombinasikan kedua pendekatan ini karena hubungannya satu dengan yang lain adalah saling melengkapi.
Kedua Framework tersebut memang memiliki keunggulan dan kelemahan, keunggulan dan kelemahan yang dimaksud adalah sebagai berikut:
COBIT memiliki kekuatan dalam hal IT Control dan Metric, tetapi tidak dijelaskan secara detil bagaimana untuk mencapainya
ITIL memiliki kekuatan dalam proses-proses IT, tetapi tidak menekankan pada Control dan Metric walaupun dalam buku ITIL terdapat rekomendasi-rekomendasi KPI untuk setiap proses dan fungsi
Hal tersebut diatas yang kemudian memberikan ruang untuk mengkombinasikan antara kedua framework tersebut, terutama pada area-area yang saya sebutkan dalam tulisan saya sebelumnya yaitu COBIT: DS (Delivery & Support) serta ITIL: IT Service Management (ITIL Service Delivery & ITIL Service Support). Namun memang masih ada area-area dalam COBIT yang belum ada proses atau fungsinya dalam ITIL versi 2, akan tetapi dalam ITIL versi 3 hampir semua sudah tercakup. Sehingga bisa dipastikan bahwa memang tidak ada overlap dalam penggunaan framework ini. Analoginya mungkin bisa saya gambarkan sebagai berikut:
” COBIT merupakan navigator yang megarahkan kemana tujuannya, sedangkan ITIL merupakan kendaraan yang dipakai untuk mencapai tujuan”



Kerangka Kerja COBIT
Kerangka kerja COBIT terdiri atas beberapa arahan/pedoman, yakni:
  • Control Objectives

Terdiri atas 4 tujuan pengendalian tingkat-tinggi (high-level control objectives) yang terbagi dalam 4 domain, yaitu :Planning & Organization,Acquisition & Implementation,Delivery & Support, dan Monitoring & Evaluation
  •   Audit Guidelines

Berisi sebanyak 318 tujuan-tujuan pengendalian yang bersifat rinci (detailed control objectives) untuk membantu para auditor dalam memberikanmanagement assurance dan/atau saran perbaikan
  •  Management Guidelines

Berisi arahan, baik secara umum maupun spesifik, mengenai apa saja yang mesti dilakukan, terutama agar dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :
-Sejauh mana TI harus bergerak atau digunakan, dan apakah biaya TI yang dikeluarkan sesuai    dengan manfaat yang dihasilkannya
- Apa saja indikator untuk suatu kinerja yang bagus.
- Apa saja faktor atau kondisi yang harus diciptakan agar dapat mencapai sukses ( critical success factors).
- Apa saja risiko-risiko yang timbul, apabila kita tidak mencapai sasaran yang ditentukan.
- Bagaimana dengan perusahaan lainnya, apa yang mereka lakukan.
- Bagaimana mengukur keberhasilan dan bagaimana pula membandingkannya.

Manfaat dan Pengguna COBIT
Secara manajerial target pengguna COBIT dan manfaatnya adalah :
  • Direktur dan Eksekutif

Untuk memastikan manajemen mengikuti dan mengimplementasikan strategi searah dan sejalan dengan TI.
  • Manajemen

-         Untuk mengambil keputusan investasi TI.
-         Untuk keseimbangan resiko dan kontrol investasi.
-         Untuk benchmark lingkungan TI sekarang dan masa depan.
  •  Pengguna

Untuk memperoleh jaminan keamanan dan control produk dan jasa yang dibutuhkan secara internal maupun eksternal.
  • Auditors

-         Untuk memperkuat opini untuk manajemen dalam control internal.
-         Untuk memberikan saran pada control minimum yang diperlukan.


 Sumber :

Sistem Informasi Manajemen dan Manajemen Layanan SI/TI

Minggu 1
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

Digambarkan sebagai sebuah bangunan piramida dimana lapisan dasarnya terdiri dari informasi, penjelasan transaksi, penjelasan status, dan sebagainya. Lapisan berikutnya terdiri dari sumber-sumber informasi dalam mendukung operasi manajemen sehari-hari. Lapisan keriga terdiri dair sumber daya sistem informasi untuk membantu perencanaan taktis dan pengambilan keputusan untuk pengendalian manajemen. Lapisan puncak terdiri dari sumber daya informasi utnuk mendukung perencanaan dan perumusan kebijakan oleh tingkat manajemen.

Definisi  sistem informasi manajemen
Istilah yang umum dikenal orang adalah sebuah sistem manusia/mesin yang terpadu (intregeted) untuk menyajikan informasi guna mendukung fungsi operasi, manajemen, dan pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi. Sistem ini menggunakan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) komputer, prosedur pedoman, model manajemen dan keputusan, dan sebuah “data base”. Manajemen sendiri mencakup proses perencanaan, pengorganisasian, pengawasan, pengarahan, dan lain-lain, dalam suatu organisasi. Sedangkan, informasi dalam satu organisasi adalah data yang diolah sedemikian rupa sehingga memiliki nilai dan arti bagi organisasi.

Dengan ini, dapat disimpulkan bahwa Sistem Informasi Manajemen (SIM) merupakan sistem yang mengolah serta mengorganisasikan data dan informasi yang berguna untuk mendukung pelaksanaan tugas dalam suatu organisasi.


Konsep Dasar Informasi
Terdapat beberapa definisi, antara lain :

1.      Data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya.
2.      Sesuatu yang nyata atau setengah nyata yang dapat mengurangi derajat ketidakpastian tentang suatu keadaan atau kejadian. Sebagai contoh, informasi yang menyatakan bahwa nilai rupiah akan naik, akan mengurangi ketidakpastian mengenai jadi tidaknya sebuah investasi akan dilakukan.
3.      Data organized to help choose some current or future action or nonaction to fullfill company goals (the choice is called business decision making)

Fungsi / Manfaat Sistem Informasi Manajemen

Supaya informasi yang dihasilkan oleh sistem informasi dapat berguna bagi manajamen, maka analis sistem harus mengetahui kebutuhan-kebutuhan informasi yang dibutuhkannya, yaitu dengan mengetahui kegiatan-kegiatan untuk masing-masing tingkat (level) manajemen dan tipe keputusan yang diambilnya. Berdasarkan pada pengertian-pengertian di atas, maka terlihat bahwa tujuan dibentuknya Sistem Informasi Manajemen atau SIM adalah supaya organisasi memiliki informasi yang bermanfaat dalam pembuatan keputusan manajemen, baik yang meyangkut keputusan-keputusan rutin maupun keputusan-keputusan yang strategis.
Sehingga SIM adalah suatu sistem yang menyediakan kepada pengelola organisasi data maupun informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas-tugas organisasi.
Beberapa manfaat atau fungsi sistem informasi antara lain adalah sebagai berikut:

1.      Meningkatkan aksesibilitas data yang tersaji secara tepat waktu dan akurat bagi para pemakai, tanpa mengharuskan adanya prantara sistem informasi.
2.      Menjamin tersedianya kualitas dan keterampilan dalam memanfaatkan sistem informasi secara kritis.
3.      Mengembangkan proses perencanaan yang efektif.
4.      Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan akan keterampilan pendukung sistem informasi.
5.      Menetapkan investasi yang akan diarahkan pada sistem informasi.
6.      Mengantisipasi dan memahami konsekuensi-konsekuensi ekonomis dari sistem informasi dan teknologi baru.
7.      Memperbaiki produktivitas dalam aplikasi pengembangan dan pemeliharaan sistem.
8.      Organisasi menggunakan sistem informasi untuk mengolah transaksi-transaksi, mengurangi biaya dan menghasilkan pendapatan sebagai salah satu produk atau pelayanan mereka.
9.      Bank menggunakan sistem informasi untuk mengolah cek-cek nasabah dan membuat berbagai laporan rekening koran dan transaksi yang terjadi.

Perkembangan Sistem Informasi Manajemen

Pada awal perkembangan komputerisasi informasi, komputer belum mempunyai program yang berjalan secara otomatis, melainkan hanya menjalankan komando yang dimasukkan secara manual ke dalam komputer. Setelah tahun 2000’an, sistem informasi manajemen mulai berkembang sebagai satu sistem yang terintegrasi pada berbagai induk perusahaan dan cabang-cabangnya. Sistem tersebut kemudian dibentuk dalam sistem informasi berbasis komputer (Computer Based Information System). Hingga kini, sistem informasi berjalan secara terintegrasi dan berjalan secara otomatis.
SIM sendiri mempunyai elemen-elemen fisik yang dibutuhkan untuk kelancaran sistem yang digunakan, yaitu perangkat keras komputer, perangkat lunak, yaitu perangkat lunak sistem umum, perangkat lunak terapan umum, serta program aplikasi.

Selanjutnya, dalam SIM terdapat database dan prosedur pelaksanaan sistem manajemen perusahaan dan tentunya, petugas yang mengoperasikan semua sistem tersebut.

Fungsi Sistem Informasi Manajemen


Fungsi utama diterapkannya sistem infomasi manajemen dalam suatu organisasi adalah sebagai berikut:
1.      Mempermudah pihak manajemen untuk melakukan perencanaan, pengawasan, pengarahan dan pendelegasian kerja kepada semua departemen yang memiliki hubungan komando atau koordinasi dengannya.
2.      Meningkatkan efisiensi dan efektifitas data yang tersaji akurat dan tepat waktu.
3.      Meningkatkan produktifitas dan penghematan biaya dalam suatu organisasi.
4.      Meningkatkan kualitas sumber daya manusia karena unit sistem kerja yang terkoordinir dan sistematis. 

Contoh Sistem Informasi Manajemen

Beberapa contoh kongkrit penerapan sistem informasi manajemen adalah sebagai berikut:

1. Enterprise Resource Planning (ERP)
Sistem ERP ini biasanya digunakan oleh sejumlah perusahaan besar dalam mengelola manajemen dan melakukan pengawasan yang saling terintegrasi terhadap unit bidang kerja Keuangan, Accounting, Sumber Daya Manusia,Pemasaran, Operasional, dan Pengelolaan Persediaan.  

2. Supply Chain Management (SCM)
Sistem SCM ini sangaat bermanfaat bagi pihak manajemen dimana data data yang disajikan terintegrasi mengenai manajemen suplai bahan baku, mulai dari pemasok, produsen, pengecer hingga konsumen akhir.

3. Transaction Processing System (TPS)
TPS ini berguna untuk proses data dalam jumlah yang besar dengan transaksi bisnis yang rutin. Program ini biasa diaplikasikan untuk manajemen gaji dan inventaris. Contohnya adalah aplikasi yang digunakan untuk Bantuan Keuangan Desa Pemprov Jawa Timur.

4. Office Automation System (OAS)
Sistem aplikasi ini berguna untuk melancarkan komunikasi antar departemen dalam suatu perusahaan dengan cara mengintegrasikan server-server komputer pada setiap user di perusahaan. Contohnya adalah email.

5. Knowledge Work System (KWS)
Sistem informasi KWS ini mengintegrasikan satu pengetahuan baru ke dalam organisasi. Dengan ini, diharapkan para tenaga ahli dapat menerapkannya dalam pekerjaan mereka.

6. Informatic Management System (IMS)
IMS berfungsi untuk mendukung spektrum tugas-tugas dalam organisasi, yang juga dapat digunakan untuk membantu menganalisa pembuatan keputusan. Sistem ini juga dapat menyatukan beberapa fungsi informasi dengan program komputerisasi, seperti e-procurement.

7. Decision Support System (DSS)
Sistem ini membantu para manajer dalam mengambil keputusan dengan cara mengamati lingkungan dalam perusahaan. Contohnya, Link Elektronik di sekolah Tunas Bangsa, yang mengamati jumlah pendapatan atau pendaftaran siswa baru setiap tahun.

8. Expert System (ES) dan Artificial Intelligent (A.I.)
Sistem ini pada dasarnya menggunakan kecerdasan buatan untuk menganalisa pemecahan masalah dengan menggunakan pengetahuan tenaga ahli yang telah diprogram ke dalamnya. Contohnya, sistem jadwal mekanik.

9. Group Decision Support System (GDSS) dan Computer-Support Collaborative Work System (CSCWS)
Serupa dengan DSS, tetapi GDSS mencari solusi lewat pengumpulan pengetahuan dalam satu kelompok, bukan per individu. Biasanya berbentuk kuesioner, konsultasi, dan skenario. Contohnya adalah e-government.

10. Executive Support System (ESS)
Sistem ini membantu manajer dalam berinteraksi dengan lingkungan perusahaan dengan berpegang pada grafik dan pendukung komunikasi lainnya.

Manajemen Layanan SI/TI
ITSM (Information Technology Service Management, Manajemen Layanan Teknologi Informasi) adalah suatu metode pengelolaan sistem teknologi informasi (TI) yang secara filosofis terpusat pada perspektif konsumen layanan TI terhadap bisnis perusahaan. ITSM merupakan kebalikan dari pendekatan manajemen TI dan interaksi bisnis yang terpusat pada teknologi. Istilah ITSM tidak berasal dari suatu organisasi, pengarang, atau pemasok tertentu dan awal penggunaan frasa inipun tidak jelas kapan dimulainya.
ITSM berfokus pada proses dan karenanya terkait dan memiliki minat yang sama dengan kerangka kerja dan metodologi gerakan perbaikan proses (seperti TQM, Six Sigma,Business Process Management, dan CMMI). Disiplin ini tidak memedulikan detail penggunaan produk suatu pemasok tertentu atau detail teknis suatu sistem yang dikelola, melainkan berfokus pada upaya penyediaan kerangka kerja untuk menstrukturkan aktivitas yang terkait dengan TI dan interaksi antara personel teknis TI dengan pengguna teknologi informasi.
ITSM umumnya menangani masalah operasional manajemen teknologi informasi (kadang disebut operations architecture, arsitektur operasi) dan bukan pada pengembangan teknologinya sendiri. Contohnya, proses pembuatan perangkat lunak komputer untuk dijual bukanlah fokus dari disiplin ini, melainkan sistem komputer yang digunakan oleh bagian pemasaran dan pengembangan bisnis di perusahaan perangkat lunak-lah yang merupakan fokus perhatiannya. Banyak pula perusahaan non-teknologi, seperti pada industri keuangan, ritel, dan pariwisata, yang memiliki sistem TI yang berperan penting, walaupun tidak terpapar langsung kepada konsumennya.
Sesuai dengan fungsi ini, ITSM sering dianggap sebagai analogi disiplin ERP pada TI, walaupun sejarahnya yang berakar pada operasi TI dapat membatasi penerapannya pada aktivitas utama TI lainnya seperti manajemen portfolio TI dan rekayasa perangkat lunak.

Menurut Muchtar A.F layanan adalah suatu sikap yang dapat mengakibatkan rasa puas atau tidak puas yang dialami oleh konsumen pada saat terjadinya proses tindakan. Sedangkan menurut Antonius Aditya & Onno Purbo, layanan adalah sebuah produk yang memberikan solusi kepada pelanggan (Carapedia, 2015). Dari dua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa layanan merupakan suatu produk yang diberikan kepada pelanggan bertujuan memberikan kepuasan terhadap solusi yang diberikan oleh perusahaan. Kepuasan tersebut akan membuat pelanggan mempertimbangkan perusahaan mana yang dapat memberikan value lebih atas layanannya, karena pelanggan saat ini sudah semakin cerdas yaitu telah menempatkan kualitas layanan pada urutan teratas mengalahkan kualitas produk/jasa dalam hal pertimbangan untuk menggunakan/membeli barang/jasa. Oleh karena itu, penyampaian layanan kepada pelanggan juga tidak kalah penting untuk menjadi perhatian perusahaan. Karena kepuasan pelanggan adalah bentuk tercapainya tujuan bisnis perusahaan.
Mengelolah atau manajemen layanan diperlukan ketekunan dan keahlian agar dapat menarik perhatian pelanggan, dengan cara meningkatkan kualitas layanan dan pelayanan salah satunya. Pelanggan akan cenderung memilih perusahaan yang  memberikan pelayanan dengan value lebih dibandingkan perusahaan yang hanya menjual produk atau jasanya saja. Pelayanan yang dimaksud adalah mulai dari pemesanan, pengiriman yang tepat waktu dan tanpa cacat, hingga pemberian jaminan atas produk/jasa yang dibeli oleh pelanggan.
Persaingan bisnis saat ini sudah semakin maju. Masing-masing penyedia layanan bersaing untuk memberikan layanan yang terbaik agar diminati oleh pelanggan. Kemajuan tersebut didukung dengan adanya teknologi informasi (TI) yang turut berkembang di era teknlogi saat ini. Perkembangan teknologi ini semakin hari semakin kompleks yang memungkinkan segala sesuatu menjadi lebih cepat dan terjangkau hingga menyebabkan pelanggan juga memiliki hak atas permintaan yang lebih beragam. Keadaan ini membuat perusahaan memerlukan pendekatan yang lebih fleksibel untuk integrasai antara layanan TI dengan layanan konvensional perusahaan agar dapat bersaing dengan perusahaan lainnya yang serupa.
Integrasi yang melibatkan layanan TI dengan layanan konvensional serta semua sumber daya manusia tentunya akan membuat informasi yang dihasilkan juga semakin banyak dan kompleks. Informasi-informasi ini dapat digunakan oleh perusahaan sebagai sumber pengambilan keputusan atas pengembangan bisnis yang dijalankan. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa informasi yang sudah tersimpan rapi mengguanakan teknologi informasi kerap kali hilang atau jatuh ke tangan yang tidak memiliki hak semestinya. Oleh karena itu, dibutuhkan pengawasan dan pengontrolan terhadap informasi-informasi yang tersimpan.
Berdasarkan paparan sebelumnya, perusahaan yang berfokus pada kepuasan pelanggan  dengan menerepkan bantuan teknologi informasi dalam bisnisnya tentunya akan menghitung ulang biaya yang harus dikeluarkan. Karena penerapat TI juga akan mengeluarkan biaya yang cukup besar. Bagi perusahaan yang kurang atau bahkan tidak bisa mengelolah biaya perusahaan akan mengalami kesulitan bahkan kebangkrutan. Untuk itu, dibutuhkan adanya kontrol atas manajemen layanan terutama manajemen TI atau IT Service Management  (ITSM) dan juga pengamanan data untuk kontrol atas informasi yang ada pada manajemen informasi atau Information Security Management System (ISMS).

Sumber :




link minggu-2 : http://evadwipermatasari.blogspot.co.id/2016/03/itil-dan-cobit.html